Tujuh Lapis Bumi Dalam Hadits dan Sains

Berbagai studi bidang geologi telah membuktikan bahwa bumi terdiri dari tujuh zona. Zona itu teridentifikasi dari lapisan dalam hingga luar.

Lapisan penyusun bumi terdiri dari tujuh lapisan yaitu inti dalam padat, inti luar cairan, lapisan selubung bawah, selubung tengah, selubung atas, zona bawah kerak berbatu, dan zona atas kerak berbatu.

Inti dalam padat

Lapisan ini sebagian besar (90%) merupakan besi dan 9% nikel. Sebagian kecil lapisan ini merupakan elemen seperti karbon, fosfor, sulfur, silikon, dan oksigen (1%). Diameter inti ini diperkirakan sekira 2.402 km. Kepadatannya diprediksikan rata-rata sekira 10-13,5 gm/cm kubik. Bagian initi tersebut dianggap sebagai bumi ketujuh.

Inti luar cairan

Inti ini merupakan inti cair yang melingkupi inti padat dan terdiri dari komposisi kimia yang hampir sama dengan inti padat, namun wujudnya cair. Ketebalannya diperkirakan sekira 2.275 km. Inti cair ini dipisahkan dari inti padat oleh zona transisi semicair dengan tebal sekira 450 km. Bagian yang membentuk 31% massa bumi ini dianggap sebagai bumi keenam.

Lapisan selubung bawah (lower mantle)

Ini merupakan zona padat yang mengelilingi inti cair bumi. Ketebalannya mencapai 2.215 km. Lapisan ini dipisahkan dari selubung tengah oleh lapisan pembatas yang ditandai dengan diskontinuitas kecepatan seismik gelombang gempa. Lapisan ini disebut sebagai bumi kelima.

Selubung tengah (middle mantle)

Ini merupakan zona padat dengan ketebalan sekira 270 km. Zona ini dipisahkan dari lapisan atas dan bawahnya oleh dua tingkat diskontinuitas gelombang seismik. Salah satu tingkat itu sekira 670 km dan yang lainnya yaitu 400 km di bawah permukaan bumi. Bagian ini merupakan bumi keempat.

Tujuh Lapis Bumi Dalam Hadits dan Sains

Selubung atas (upper mantle)

Kondisi zona ini semicair dengan tingkat kepadatan dan kelekatan yang relatif tinggi. Zona ini dikenal sebagai astenosfer. Kedalamannya antara 65-120 km hingga 400 km di bawah permukaan bumi. Dengan ketebalan berkisar antara 335 dan 380 km, zona ini disebut bumi ketiga.

Zona bawah kerak berbatu (Litosfer)

Zona ini memiliki ketebalan berkisar antara 40-60 km. Teletak di bawah laut dan samudera pada kedalaman antara 60-80 km serta 120 km di bawah permukaan daratan bumi. Zona yang berada di atas selubung atas ini dianggap sebagai bumi kedua.

Tujuh Lapis Bumi Dalam Hadits dan Sains

Zona atas kerak berbatu (kerak bumi)

Ketebalan zona ini berkisar antara 5-8 km di bawah dasar laut dan samudera serta antara 60-80 km rata-rata di bawah daratan. Lapisan ini sebagian besar terdiri dari granit yang berbalut sedimen, kemudian tanah yang tebal dan lembut. Struktur ini sebagian besar terdiri dari unsur ringan yang merupakan massa daratan. Yakni berupa batuan dasar, batuan ultrabasa, dan beberapa sedimen yang ditemukan di dasar laut dan samudera. Kerak bumi ini merupakan bumi pertama.

Penjelasan ilmiah ini rupanya telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya, seperti dikutip dari dalam buku ‘Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah’.

“Siapa saja yang merampas tanah orang lain meskipun hanya sejengkal, maka lehernya akan dililiti dengan tanah tersebut mulai dari permukaannya ke bawah hingga tujuh lapis bumi,” HR Bukhari.

Fenomena Api Menyala Dalam Lautan Telah Dijelaskan Alquran

Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.

Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.

Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan. 

Api tak hanya bisa hidup di daratan. Ternyata pascaperang dunia kedua, para ilmuwan menemukan sebuah fakta baru yakni adanya api di dalam lautan. Hal itu kemudian diketahui akibat letusan gunung di dasar lautan.

Dalam buku ‘Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah’ dijelaskan, dengan mempelajari bentangan pegunungan bawah laut ini, jelas bahwa gunung-gunung tersebut terbentuk sebagai akibat dari letusan-letusan dahsyat gunung berapi.

Terdapat jaringan raksasa pergeseran geologi yang meretakkan kerak berbatu Bumi dan mengitari celah akibat retakan tersebut. Pergeseran ini terutama berpusat di dasar laut.

Jaringan pergeseran geologi tersebut membentang hingga lebih dari 64 ribu kilometer dan kedalamannya mencapai sekira 65 kilometer menembus kerak berbatu. Jaringan pergeseran itu mencapai lapisan lunak yang dikenal sebagai zona lunak (astenosfer).

Di dalam astenosfer, bebatuannya dalam keadaan sebagian leleh dengan tingkat kepadatan dan kelekatan relatif tinggi. Arus panas menggiring berton-ton bebatuan yang meleleh itu ke dasar samudera. Selain itu, batuan tersebut juga menuju dasar beberapa lautan seperti Laut Merah dengan temperatur mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius.

api di bawah laut

Batuan ini yang diperkirakan berjumlah jutaan ton, kemudian mendorong air laut ke kanan dan kiri. Fenomena ini dikenal oleh para ilmuwan sebagai fenomena perluasan dan pembentukan kembali dasar laut dan samudera. Daerah yang dihasilkan dari proses perluasan itu dipenuhi dengan magma, sehingga mengakibatkan munculnya api di dasar samudera dan beberapa kawasan dasar laut.

Fakta bahwa terdapat api di dalam laut telah disebutkan dalam Alquran sejak 14 abad lalu, jauh sebelum manusia mengenal teknologi canggih untuk bisa meneliti serta menemukan keberadaan api di dalam laut tersebut.​ Seperti yang tercantum dalam ayat berikut ini.

"Demi bukit dan Kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi Baitul Ma'mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya," Surah At Tur Ayat 1-8.

Isra Mikraj Perjalanan Nabi Muhammad SAW Menembus 7 Langit Dalam Semalam

Isra Mikraj (bahasa Arab: الإسراء والمعراج, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāj) adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah dia mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Beberapa penggambaran tentang kejadian ini dapat dilihat di surah ke-17 di Al-Quran, yaitu Surah Al-Isra.

Sebenarnya Isra dan Miraj merupakan dua peristiwa berbeda. Namun karena dua peristiwa ini terjadi pada waktu yang bersamaan maka disebutlah Isra Miraj.

Isra merupakan kisah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerussalem. Sedangkan Miraj merupakan kisah perjalanan Nabi dari bumi naik ke langit ketujuh dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (akhir penggapaian) untuk menerima perintah Allah SWT menjalankan salat lima waktu dalam sehari semalam.

Dalam beberapa hadits yang di riwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, suatu hari, ketika Nabi Muhammad SAW bersama sahabat tengah menunaikan salat di Masjid di Madinah, turunlah QS. Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Umat Islam agar memalingkan wajah (berkiblat) ke Masjid Al-Haram.

"Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjid Al-Haram itu adalah benar dari tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."

Kendati demikian, dengan adanya perubahan kiblat ini, Islam tidak lantas 'meminggirkan' kedudukan Masjdi Al-Aqsha. Al-Quran telah menempatkan Masjid Al-Aqsha dalam kemuliaan. Terlebih saat peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. 

"Maha suci Allah, yang telah memberi jalan hambanya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah maha mendengar lagi maha melihat." (QS. Al-Isra: 1)

Dalam perjalanan bertemu Sang Pencipta, selain ditemani malaikat Jibril, Rasullulah mengendarai Buraaq, yakni hewan putih panjang, berbadan besar melebihi keledai dan bersayap. Dikisahkan Buraaq, sekali melangkah bisa menempuh perjalanan sejauh mata memandang dalam sekejap untuk melewati 7 langit dan bertemu dengan para penghuni di setiap tingkatan. 

Dalam hadits tersebut dikisahkan, di langit tingkat pertama, Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS. 

Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya. Nabi Adam membalasnya dengan membekali Rasulullah lewat doa agar selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya. 

Kemudian di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, Rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya. 

Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.
al aqsa mosque

Lalu di langit ketiga, Rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.

Setelah berpisah dengan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan dan sampailah dia ke langit keempat. Pada tingkatan ini, Rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT.

Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.

Selanjutnya di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT.

Harun terkenal sebagai nabi yang memiliki kepandaian berbicara dan meyakinkan orang. Di langit kelima, Nabi Harun mendoakan Nabi Muhammad senantiasa selalu mendapat kebaikan pada setiap perbuatannya.

Manfaat Ulat Sutera Menurut Al Qur'an dan Sains

Ngengat sutra atau sutera (Bombyx mori: "ulatmurbei") adalah ngengat yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai penghasil serat/benang sutra. Makananulat sutra hanyalah daun murbei (Morus alba).

Serat yang dihasilkan ulat tersebut bisa diolah untuk menciptakan kain sutra.

Buku 'Amazing!!! Cerita-Cerita Sains Terbaik dari Alquran' menjelaskan bahwa ulat sutra yang sudah berbentuk kepompong, diambil serat-seratnya. Caranya ialah dengan merebus kepompong tersebut sehingga larva ulatnya mati.

Kemudian, serat-seratnya bisa diambil. Apabila tidak direbus, larva ulat itu akan memakan kepompong sehingga tidak bisa digunakan lagi. Menurut penelitian, ternyata satu kepompong ulat sutra bisa menghasilkan untaian serat sepanjang 300-900 meter.

Fakta-fakta mengenai sutra ini antara lain bahannya yang kuat. Kekuatan sutra sebanding dengan kawat halus yang terbuat dari baja. Selain itu, ada asam amino dalam serat sutra yang membuatnya terasa lembut dan nyaman.

ulat sutera

Kain sutra juga memiliki ciri khas, yaitu berkilau seperti mutiara. Hal ini disebabkan oleh lapisan-lapisan fibroin, sejenis protein yang dihasilkan ulat sutra untuk membentuk struktur mikro yang berbentuk prisma.

Struktur prisma inilah yang menyebabkan cahaya akan disebar sehingga menimbulkan efek kilau yang indah pada sutra. Tidak hanya itu, kain sutra juga tahan terhadap panas, tidak mudah terbakar, dan melindungi tubuh dari sinar ultraviolet yang merusak kulit.

Makanan ulat sutra adalah daun murbei yang masih muda. Daun ini juga bisa dikonsumsi manusia dan memiliki manfaat untuk kesehatan.

Keistimewaan sutra telah disebutkan dalam Alquran. "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera," Surah Al-Hajj Ayat 23.

Keistimewaan Kuda Dalam Alquran dan Sains

Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan peliharaan yang penting secara ekonomis dan historis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun.

Kuda merupakan salah satu dari spesies mamalia modern dari genus Equus. Hewan ini menjadi hewan peliharaan yang penting secara ekonomis dan historis.

Hewan berkaki empat ini dimanfatkan sebagai hewan tunggangan oleh suku-suku pengembara (nomaden) di padang rumput dan gurun Asia Tengah dan Utara.

Peran berikutnya adalah sebagai hewan penarik. Dalam buku 'Cerita-Cerita Sains Terbaik dari Alquran' karya Af Idah Salmah dijelaskan bahwa kuda termasuk hewan herbivora atau pemakan tumbuhan.

kuda

Pada musim panas, kuda bisa menghabiskan 50 kilogram rumput dalam sehari. Sedangkan pada musim dingin, makanannya bisa ditambah dengan jerami dan padi-padian serta terkadang ditambah dengan tetes tebu. Kebutuhan air bagi kuda dalam sehari mencapai 60 liter.

Kuda juga dapat dirawat oleh pemiliknya dengan cara dimandikan, digosok, dipijat, serta disikat. Dalam berbagai kebudayaan, kuda dianggap sebagai simbol kebebasan, kecerdasan, dan kekuatan.

Kuda telah disebutkan di salah satu ayat dalam Alquran. "Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya," bunyi Surah An Nahl Ayat 8.

Ketika Istri Minta Pahala di Dunia

Dikisahkan, hiduplah sepasang suami istri dengan kehidupan yang memprihatinkan. Sang suami, hanyalah seorang pengangguran. Sedangkan istri, pekerjaannya hanya satu, menjadi ibu rumah tangga.

Namun, sisi keagamaan mereka pantas diacungi jempol. Rumahnya yang berdekatan masjid, semakin mendukung proses beribadah kepada Allah Ta’ala. Shalat wajib lima waktu, shalat rawatib yang menggiringnya, pun dengan shalat mustahab yang lainnya, shalat-shalat yang disunahkan mereka lakukan juga.

Apalagi dengan sang suami, dengan pekerjaannya sebagai “pengangguran saleh”. Intensitas pertemuannya dengan Sang Maha Esa semakin padat. Sepanjang waktu hanya ia gunakan untuk beribadah kepadaNya. Selesai subuh, ia tak akan beranjak dari masjid sebelum mentari terbit. Pun setelahnya, ketika tiba waktu dhuha maka ia bergegas untuk kembali shalat sunah. Begitu seterusnya dengan ashar, maghrib, dan isya’. Ia habiskan untuk beribadah kepada Allah.

Tapi inilah dunia, segalanya harus berperantara perkara dunia pula. Kita beribadah, maka kita perlu makan sebagai sumber kekuatan. Kita shalat, maka kita butuh pakaian sebagai penutup aurat. Ya, namanya saja makhluk dunia, ya pasti akan membutuhkan sarana dan prasarana  dunia. 

Kira-kira, begitulah isi benak sang istri. Hingga suatu saat ia merajuk pada sang suami,

“Wahai suamiku, engkau begitu taat terhadap Tuhanmu. Hari-hari engkau habiskan untuk beribadah kepadaNya. Dari pagi hingga malam, bahkan hingga terbit fajar lagi, engkau persembahkan hanya untukNya. Hingga aku pun, terkadang merasa terabaikan,”

“Wahai istriku, ada maksud apakah engkau berkata seperti itu. Bukankah manusia memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Gerangan apa yang membuatmu bersedu-sedan seperti demikian?” tanya suami keheranan.

“Bukan apa suamiku, namun lihatlah baju gamisku yang mulai lapuk ini. Tidakkah engkau sadar, dari hari pertama perkawinan kita, tak sehelaipun kain lagi yang mampu kau berikan melainkan gamis yang mulai lapuk ini. Tak pernah sekalipun aku meminta sesuatu darimu salama ini. Namun, tegakah engkau melihat istrimu hanya berbalut sehelai kain lapuk yang telah usang?” adu sang istri pada suaminya.
Merasa iba, sang suami balik bertanya, “Lalu apakah yang kau inginkan wahai istriku?”

“Wahai suamiku, kita telah begitu taat kepada Allah subhanahu wata’ala. Seluruh perintahnya, telah kita usahakan utuk ditunaikan. Segala larangan pun juga sekuat tenaga telah kita jauhi. Oleh karena itu, kiranya engkau sudi memintakan ganjaran, pahala balasan kepada Tuhanmu atas ketaatan kita selama ini,” pinta sang istri.

Lantas, sang suami pun berbalik arah menuju ambang pintu rumah mereka. Melangkahkan kaki menapaki jalan setapak menuju masjid yang biasa ia gunakan untuk beribadah. Sesampainya di sana, sang suami pun mulai bermunajat kepada Allah,

“Ya Allah, sungguh… hamba ikhlas akan segala takdirmu. Selama bertahun-tahun hamba dirundung kefakiran, hamba tetap berusaha taat kepadaMu. Karena hamba yakin, segala qadha dan qadarMu adalah yang terbaik. Namun, izinkan hamba untuk mengadu kepadamu ya Allah. Bahwasannya istri hamba meminta sedikit saja harta sebagai pahala balasan bagi kami untuk kami jadikan bekal di dunia ini.”

Syahdan, tiba-tiba terdengar suara berdebam dari arah belakang. Mendengar suara itu, sang suami lantas keheranan dan mencoba untuk menengok suara apakah itu. 

Ternyata, itu adalah sebuah sandal. Ya, hanya sebelah saja. “Sandal siapakah ini?” batin sang suami keheranan. 

Setelah dilihat secara seksama, keheranannya semakin menjadi-jadi. Betapa tidak, sandal yang hanya sebelah saja itu ternyata terbuat dari emas bertabur berlian di bagian atasnya. Ia heran, siapakah pemilik sandal ini. Ia merasa, tak mungkin tetangganya memiliki sandal semewah ini. Kalaupun ada, pastilah itu milik orang yang sangat kaya raya.
Ia lalu bergumam, “Ya Allah, sandal siapakah ini?”

Sontak terdengar hatif (suara tanpa rupa) berujar kepadanya,  

“Wahai fulan, sesungguhnya itu adalah sandal istrimu kelak di surga. Tuhanmu telah menyegerakannya di dunia sebagai pahala balasan akan ketaatanmu. Dan akitbat itu pula, tak kan ada lagi sandal pengganti bagi istrimu kelak di surga. Itu disebabkan karena engkau telah memintanya di dunia.”

Mendengar suara tersebut, sang suami lalu tertegun. Membayangkan tentang betapa anehnya istrinya kelak di surga dengan memakai sandal ghanya sebelah saja. 

Menyadari hal itu, sang suami pun berujar, “Ya Allah, ampunilah hambamu yang tak sabar akan pahala balasan ini ya Allah. Hamba terlalu gegabah akan perkara duniawi. Hamba tidak ikhlas dalam beribadah. Seakan, hamba adalah pekerja yang meminta gaji dalam hal beribadah. Ampuni hamba ya Allah.”

wife

Seketika ia lalu melemparkan sandal emas tersebut ke langit. Dan benar, sandal tersebut hilang dan tak jatuh kembali. Ia pun pulang dengan wajah tertunduk.

Sesampainya di rumah, sang suamipun mulai bercerita tentang kejadian yang baru saja ia alami. Tentang munajatnya, tentang sandal emas, pun dengan hatif yang menerangkan ihwal jatuhnya sandal emas. 

Mendengar hal tersebut, pasutri ini kemudian menangis tersipu malu. Mereka lalu tersadar betapa hinanya seorang hamba yang meminta pahala di dunia atas ibadahnya yang tak seberapa. Sungguh, tanpa mereka sadari pun ibadah yang mereka lakukan tak lain adalah sebab rahmat yang diberikan Allah. (Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari tausiah KH Munif Zuhri Girikusumo dalam acara pembacaan Maulid ad diba’I  di Dalem Ageng, Girikusumo, Mranggen, Demak.

Hubungan Erat Antara Kelemahan dan Kemuliaan

Pada melakukan suatu usaha atau pekerjaan di sebuah perusahaan, tentu Anda pernah menjumpai pertanyaan, apa kelemahan dan kelebihan Anda. Kebanyakan orang saat mendapat pertanyaan ini tidak pernah bisa menjawab secara langsung apa sebenarnya kelemahan maupun kelebihannya dan secara umum, setiap orang yag diberi pertanyaan tersebut akan menjawab berdasar kebiasaan yang sudah pernah dialami sebelumnya. Meskipun terkadang jawaban yang diberikan terasa tidak sepenuhnya benar dan tidak meyakinkan, sebenarnya manusia memang diciptakan dengan dua sisi yang saling melengkapi, yaitu sisi kelemahan dan kelebihan (kemuliaan).

Hikmah Kelemahan

Saat hidup di dunia, ada banyak manusia yang akan diberi keterbatasan dalam hal fisik maupun psikis, begitupula kelebihan dalam hal yang sama. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena dengan adanya kelemahan akan membuat manusia sadar akan beberapa hal seperti:

a. Waspada dalam segala tindakannya

Manusia diberi kelemahan seperti yang tertera pada surat An Nisa ayat 28 agar manusia senantiasa waspada dalam setiap tindakannya. Dengan kelemahan yang dimiliki, setiap orang akan mencoba memikirkan hasil baik buruk semua tindakan yang dilakukannya dan menghindarkan dari marabahaya. Contohnya saja saat Anda bergaul dengan banyak orang di tempat Anda bekerja, kelemahan yang dimiliki akan menjadikan Anda sebagai orang yang toleran dan berhati-hati dalam setiap ucapan yang dilakukan agar tidak menyakiti dan menimbukan dendam bagi orang lain.

b. Tidak sombong maupun takabur

Kelemahan yang dimiliki akan menjadikan orang yang bersangkutan selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur, karena adanya anggapan masih banyak orang yang lebih lemah maupun lebih baik daripada dirinya.

c. Menyadari cara menyeimbangkan dengan kelebihannya

Saat seseorang memiliki kelemahan, yang harus dilakukan bukanlah menyembunyikan kelemahan melainkan menyeimbangkannya dengaan kelebihan yang dimiliki. Dengan pengetahuan akan kelemahan yang dimiliki, Anda bisa belajar bagaimana kelemahan yang ada akan dapat dilengkapi dengan kelebihan. Dengan demikian, keseimbangan yang tercipta akan memberikan rasa percaya diri yang lebih baik. Sebagai contoh saat Anda adalah seorang yang pelupa namun memiliki keahlian dalam membuat catatan, maka keahlian yang dimiliki dapat digunakan untuk membuat catatan terorganisir yang menghindarkan Anda dari resiko kerugian akibat lupa. 

d. Selalu mencari petunjuk dari Allah SWT

Manusia diciptakan dalam keadaan zalim dan bodoh karena kelemahannya, seperti yang diutarakan dalam Q.S Al Ahzab ayat 72. Untuk itulah, agar manusia dapat menghindari kerugian yang diakibatkan oleh kelemahannya, manusia tetap harus mencari petunjuk dari Allah SWT dengan cara berdoa maupun membaca AlQur’an dan Hadist. Dengan mengkondisikan keduanya dibawah petunjuk Allah SWT, kehidupan seseorang akan lebih terarah, bermanfaat, dan selalu mendapat perlindungan yang dibutuhkan dari Allah SWT.

strong

Hikmah Kelebihan

Sedangkan adanya kelebihan yang diberikan Allah SWT seperti yang diungkapkan dalam AlQur’an QS. Al Israa’:70 dan QS. As. Sajdah: 9 dalam bentuk ruh, jasad yang sempurna, dan penghidupan yang layak akan membuat manusia menyadari beberapa tugas yang diberikan padanya, seperti:

a. Tugas untuk menjadi seorang khalifah yang baik

Setiap manusia diberi kelebihan berupa akal yang menjadikannya makhluk paling pintar diantara makhluk Allah yang lainnya. Hal inilah yang menjadikan manusia lebih memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin atau khalifat untuk umat yang ada di bumi. Namun demikian, untuk menjadi seorang khalifah yang baik, pemahaman akan perintah Allah dan kesediaan untuk menjauhi semua laranganNya diperlukan untuk menjadikan seseorang memiliki pribadi yang santun dan peka terhadap sesama.

b. Mencari penghidupan yang layak

Ketika seorang manusia diberi kelebihan dalam bentuk fisik, maupun pikiran, kelebihan tersebut dapat digunakan untuk mencari penghidupan yang layak untuk hidupnya di dunia dan menjauhkan dirinya dari kemiskinan maupun ketidakseimbangan dalam hidup. Contohnya saja, saat seseorang memiliki keahlian melukis, maka dirinya bisa mengasah kemampuan yang dimiliki untuk menjadi seorang pelukis yang handal. Begitupula saat ada orang yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang lain dan meracik obat-obatan, maka kemampuan yang dimilikinya bisa digunakan untuk membuat orang lain tidak perlu khawatir lagi dengan rasa sakit yang dideritanya.

Dengan adanya keseimbangan antara kelemahan dan kelebihan atau kemuliaan, niscaya setiap orang akan dapat selalu bersyukur pada Allah SWT.