Fenomena Api Menyala Dalam Lautan Telah Dijelaskan Alquran

Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panas pun tidak mampu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.

Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah.

Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan. 

Api tak hanya bisa hidup di daratan. Ternyata pascaperang dunia kedua, para ilmuwan menemukan sebuah fakta baru yakni adanya api di dalam lautan. Hal itu kemudian diketahui akibat letusan gunung di dasar lautan.

Dalam buku ‘Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah’ dijelaskan, dengan mempelajari bentangan pegunungan bawah laut ini, jelas bahwa gunung-gunung tersebut terbentuk sebagai akibat dari letusan-letusan dahsyat gunung berapi.

Terdapat jaringan raksasa pergeseran geologi yang meretakkan kerak berbatu Bumi dan mengitari celah akibat retakan tersebut. Pergeseran ini terutama berpusat di dasar laut.

Jaringan pergeseran geologi tersebut membentang hingga lebih dari 64 ribu kilometer dan kedalamannya mencapai sekira 65 kilometer menembus kerak berbatu. Jaringan pergeseran itu mencapai lapisan lunak yang dikenal sebagai zona lunak (astenosfer).

Di dalam astenosfer, bebatuannya dalam keadaan sebagian leleh dengan tingkat kepadatan dan kelekatan relatif tinggi. Arus panas menggiring berton-ton bebatuan yang meleleh itu ke dasar samudera. Selain itu, batuan tersebut juga menuju dasar beberapa lautan seperti Laut Merah dengan temperatur mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius.

api di bawah laut

Batuan ini yang diperkirakan berjumlah jutaan ton, kemudian mendorong air laut ke kanan dan kiri. Fenomena ini dikenal oleh para ilmuwan sebagai fenomena perluasan dan pembentukan kembali dasar laut dan samudera. Daerah yang dihasilkan dari proses perluasan itu dipenuhi dengan magma, sehingga mengakibatkan munculnya api di dasar samudera dan beberapa kawasan dasar laut.

Fakta bahwa terdapat api di dalam laut telah disebutkan dalam Alquran sejak 14 abad lalu, jauh sebelum manusia mengenal teknologi canggih untuk bisa meneliti serta menemukan keberadaan api di dalam laut tersebut.​ Seperti yang tercantum dalam ayat berikut ini.

"Demi bukit dan Kitab yang ditulis, pada lembaran yang terbuka, dan demi Baitul Ma'mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya," Surah At Tur Ayat 1-8.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »